Selasa, 04 September 2018

PERAN PEMUDA SEBAGAI GENERASI PENERUS BANGSA MENYONGSONG INDONESIA EMAS 2045


Bonus demografi pada periode 2020-2045 adalah suatu hal yang diprediksi menjadi factor adanya Indonesia Emas. Yaitu, 70 persen dari total jumlah penduduk Indonesia berada dalam usia produktif (15-64 tahun). Sementara sisanya 30 persen adalah penduduk tidak produktif (usia 14 tahun ke bawah dan di atas 65 tahun). Periode ini dikatakan akan menjadi Indonesia emas karena dinilai beban ketergantungan penduduk dirasa paling ringan. Dua atau tiga penduduk yang bekerja hanya akan menanggung satu orang yang tidak bekerja, ketika penduduk usia produktif yang melimpah itu hidup dengan benar-benar produktif (bekerja), maka produktivitas bangsa akan meningkat pesat. Imbasnya pertumbuhan ekonomi melesat dan Indonesia menjadi kekuatan ekonomi dunia. Tetapi, jika Indonesia tidak dapat memanfaatkan peluang ini, atau tak mampu memberdayakan bonus demografi itu, maka Indonesia akan menghadapi bencana kependudukan. Angka pengangguran yang meledak akan memicu berbagai persoalan social, seperti  kemiskinan, kriminalitas, ketimpangan ekonomi, dan lainnya. Sungguh sangat disayangkan bukan?
Pemuda seperti kita inilah yang akan menghadapi dampak bonus demografi sekaligus pula yang akan menjadi agen utama dari solusi menghadapi masalah tersebut di masa depan. Sehingga kualitas pemuda masa kini menjadi penentu kualitas penduduk Indonesia di masa depan.
Sebagai generasi penerus bangsa, hendaknya kita mengetahui langkah-langkah dalam menyongsong Indonesia emas 2045. Kita memulainya dari diri kita sendiri dengan menghindari perilaku konsumerisme, materialistis, sadistis, agresif, individualistis, maupun hedonistik yang sering muncul seiring pesatnya kemajuan global. Perilaku tersebut tidak sesuai dengan kultur budaya Indonesia  sekaligus menimbulkan keresahan dan ancaman bangsa.
Kita juga harus memperbaiki kualitas sebagai pemuda penerus bangsa. Kualitas tersebut sebagian  bergantung  pada  apakah kita sehat dan berpendidikan, atau apakah kita memiliki pekerjaan dan perekonomian yang bagus. Selanjutnya, bagaimana kita akan berproses dewasa menyiapkan masa depan dan masa depan anak cucu? Tentunya dibutuhkan keteladanan dan kebijaksanaan seluruh elemen bangsa, termasuk pemuda di dalamnya untuk menentukan sikap.    Kita sebagai pemuda, generasi penerus bangsa,  juga harus selalu berpikir kritis, selalu berinovasi, dan berintelektual. Dengan kata lain, kita akan membangun peradaban baru baik dari segi intelektual, sikap, maupun kehidupan sosial itu sendiri.
Bila kita mendengar sejarah, kita akan menemui pidato Ir. Soekarno dengan pepatahnya yang berbunyi, “Beri aku seribu orang tua niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia”.  Bayangkan, hanya dengan sepuluh pemuda, Bung Karno berkeyakinan untuk mengguncang dunia. Lain lagi pada masa pemerintahan Soeharto. Bukankah yang mengakhiri masa suram pemerintahan orde lama adalah para pemuda bergelar mahasiswa? Mahasiswa-mahasiswalah yang dapat berpikir kritis dan memprotes pemerintahan yang kala itu carut marut. Lalu apakah kita yang saat ini disebut sebagai pemuda, akan tetap diam berpangku tangan tanpa melakukan hal hal yang produktif yang dapat membangun bangsa ini menjadi lebih baik lagi?
Untuk itu,  kita sebagai pemuda generasi penerus bangsa, sebisa mungkin mengeksplor  berbagai ilmu pengetahuan dan berkontribusi membangun bangsa melalui karya karya yang kita hasilkan. kita harus yakin bahwa kita dapat membawa Indonesia menuju masa emas 2045 dengan langkah-langkah tersebut.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar