Selasa, 04 September 2018

RESENSI BUKU: CHOCOLOGY



Judul Buku                : Chocology
Pengarang                  : Louis Tanuhadi
Penerbit                      : Gramedia Widiarsana Indonesia
Tahun Terbit              : Jakarta, 2012







Buku chocology ini ditulis oleh seorang chocolatier (ahli coklat) yang bernama Louis Tanuhadi. Beliau memang sangat mengetahui seluk beluk mengenai coklat.  Menurutnya, menjadi seorang ahli coklat tidak hanya sekadar bisa melumerkan dan mencetak cokelat saja, namun harus mengerti bagaimana cara memperlakukan cokelat yang sebenarnya, seperti tempering, proses pembuatan, dan tentunya pengetahuan mengenai cokelat itu sendiri.
Buku ini mengupas tentang sejarah cokelat, pengetahuan dasar tentang pembuatan cokelat, macam – macam cokelat, serta menjawab semua pertanyaan mengenai cokelat. Tak hanya itu, pembaca  disuguhkan misteri cita rasa dan karakter di dalam warna cokelat.
Walaupun sampul buku ini kurang menarik dari segi warna dan visualisasinya, tetapi isi yang dipaparkann dalam buku ini cukup jelas, informative, dan mudah dimengerti. Tak hanya itu, dari segi kelengkapan, buku ini tidak hanya membahas mengenai seluk beluk cokelat saja, tetapi juga dilengkapi resep resep inovatif yang dapat memberikan inspirasi bagi para pembuat cokelat maupun pembaca awam.
Kesimpulannya, buku ini sangat cocok dibaca untuk semua kalangan. Baik pembuat cokelat, maupun orang awam sekalipun. Dengan adanya buku ini, akan memberikan pandangan baru mengenai cokelat yang belum diketahui sebelumnya.

Sumber : http//library.uny.ac.id

METODE PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF


Pengertian belajar bisa diartikan sebagai semua aktivitas mental atau psikis yang dilakukan oleh seseorang yang menimbulkan perubahan tingkah laku berbeda antara sesudah belajar dan sebelum belajar. Belajar bisa juga didefinisikan sebagai sebuah proses perubahan di dalam kepribadian manusia. Perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman keterampilan, daya pikir, maupun kemampuan yang lain.

Demi terwujudnya aktivitas belajar yang baik, maka perlu didukung dengan suatu pengembangan dalam metode pembelajaran. Pengembangan metode pembelajaran tersebut mencakup 2 hal yaitu:
1.      Pengembangan sarana dan prasarana dalam melaksanakan pembelajaran
Perkembangan metode pembelajaran berkembang pesat seiring berkembangnya teknologi IT di Indonesia. Pada saat ini komputer sudah sangat memasyarakat dan semua sekolah telah memiliki perangkat komputer, baik digunakan untuk administrasi sekolah maupun untuk media pembelajaran di kelas. Dengan media komputer mempermudah pengajar dalam mengajarkan materi-materi yang bersifat abstak dan membantu anak didik dalam mempelajari materi tersebut.
Penggunaan media komputer dalam proses belajar-mengajar merupakan salah satu alternatif pengajar untuk menyeragamkan media pengajaran sehingga merangsang anak didik dalam berpikir, berperasaan dan menumbuhkan minat anak didik untuk memungkinkan terjadinya proses belajar-mengajar yang timbal balik antara pengajar dan anak didik.
Sebagai contoh  dalam pelajaran biologi bab pencernaan, dalam menjelaskan bagaimana proses pencernaan itu tidaklah mudah. Karena proses pencernaan terjadi di dalam tubuh. Teori dan gambar pada buku biasa terkadang kurang mampu menjelaskan secara detail. Oleh sebab itu penggunaan komputer dalam pembelajaran ini sangat diperlukan karena dengan komputer proses pencernaan bisa divisualisasikan dalam bentuk animasi video. Sehingga murid bisa dengan mudah memahami bagaimana proses pencernaan.
Satu lagi perkembangan teknologi yang dapat mendukung perkembangan metode pembelajaran yaitu internet. Internet (kependekan dari interconnection-networking) adalah seluruh jaringan komunikasi yang menggunakan media elektronik, yang saling terhubung menggunakan standar sistem global Transmission Control Protocol/Internet Protocol Suite (TCP/IP) sebagai protokol pertukaran paket (packet switching communication protocol. Dengan adanya internet metode pembelajaran bisa lebih variatif.
Sebagai contoh,  dengan adanya internet kita bisa mencari materi pembelajaran tanpa adanya batasan. Narasumber- narasumber yang diperlukan sudah tersedia di dunia virtual ini.
Tetapi ada yang perlu digaris bawahi. Perkembangan teknologi yang dapat mendukung perkembangan metode pembelajar ini selain memiliki dampak yang positif juga memiliki dampak negatif. Dampak negatif akan muncul jika penggunaan teknologi dilakukan secara berlebihan. Terlalu lama di depan komputer bisa menyebabkan gangguan pada mata. Konten- konten negatif di internet biasanya juga akan muncul jika penggunaannya tidak dikendalikan.

2.      Pengembangan  interaksi antara pengajar dan anak didik
Selain perkembangan teknologi, hal yang dapat mendukung perkembangan metode pembelajaran adalah interaksi antara pengajar dan anak didik. Interaksi yang dimaksud yaitu interaksi yang mampu memberikan motivasi. Motivasi belajar anak didik yang tinggi akan merangsang anak didik untuk mengembangkan potensinya dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya dalam membangun motivasi belajar anak didik untuk mencapai efektivitas pembelajaran. Upaya-upaya tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
·         Menumbuhkan jiwa gembira pada anak didik
Mengawali kegiatan belajar dengan suasana riang akan membuat anak didik termotivasi untuk giat belajar dan bersungguh-sungguh dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Interaksi ini sangat penting karena lancar atau tidaknya perkembangan metode pembelajaran tergantung dari bagaimana cara kita memulai pembelajaran itu.
·         Memposisikan sebagai sahabat
Kerapkali di sekitar kita masih saja ada pengajar yang memperlakukan sanak didiknya seperti seorang robot yang akan patuh dengan intruksi-intruksi formal dan baku. Hal ini tercermin dari kebiasaan buruk seorang pengajar yang memiliki konsep diri negatif, seperti suka memarahi anak didik tanpa batas, berteriak dengan bahasa yang tidak layak, dan menghukum anak didik melewati batas wajar. Perilaku-perilaku tersebut hendaknya dihentikan segera mungkin dan dikendalikan secara proporsional agar tidak menimbulkan adanya korban kekerasan di dalam dunia pendidikan.
Hal tersebut dapat dirubah dengan cara memposisikan anak didik sebagai sahabat. Dengan demikian anak didik akan merasa nyaman dan rasa nyaman itu dapat menumbuhkan motivasi belajar sehingga tujuan pengembangan metode pembelajaran dapat terlaksana.
·         Menghargai anak didik
Setiap manusia ingin dihormati dan dihargai oleh siapapun. Tak terkecuali pada diri anak didik. Apabila pengajar sudah tidak menghargai anak didik dengan menyebutkan kekurangan anak didik di depan teman-teman atau dengan mengatakan perkataan “bodoh” kepada anak didik , maka hal ini malah akan membuat anak didik merasa tidak dihargai dan dan menimbulkan pertentangan batin di dalam diri anak didik. Tak jarang ada anak didik yang berani menghina pengajar atau bahkan memanggil pengajar dengan sebutan yang tidak layak, barangkali itu disebabkan karena perbuatan kita yang kerap dilakukan terhadap mereka.
Oleh karena itu menghargai anak didik dalam hal sekecil apapun sangat penting untuk menumbuhkan motivasi.

Dari uraian di atas, kita tahu bahwa perkembangan teknologi dan interaksi antara pengajar dan anak didik sangat berpengaruh dalam pengembanagan metode pembelajaran. Kerjasama dan dukungan antara semua pihak juga diperlukan.   

PERAN PEMUDA SEBAGAI GENERASI PENERUS BANGSA MENYONGSONG INDONESIA EMAS 2045


Bonus demografi pada periode 2020-2045 adalah suatu hal yang diprediksi menjadi factor adanya Indonesia Emas. Yaitu, 70 persen dari total jumlah penduduk Indonesia berada dalam usia produktif (15-64 tahun). Sementara sisanya 30 persen adalah penduduk tidak produktif (usia 14 tahun ke bawah dan di atas 65 tahun). Periode ini dikatakan akan menjadi Indonesia emas karena dinilai beban ketergantungan penduduk dirasa paling ringan. Dua atau tiga penduduk yang bekerja hanya akan menanggung satu orang yang tidak bekerja, ketika penduduk usia produktif yang melimpah itu hidup dengan benar-benar produktif (bekerja), maka produktivitas bangsa akan meningkat pesat. Imbasnya pertumbuhan ekonomi melesat dan Indonesia menjadi kekuatan ekonomi dunia. Tetapi, jika Indonesia tidak dapat memanfaatkan peluang ini, atau tak mampu memberdayakan bonus demografi itu, maka Indonesia akan menghadapi bencana kependudukan. Angka pengangguran yang meledak akan memicu berbagai persoalan social, seperti  kemiskinan, kriminalitas, ketimpangan ekonomi, dan lainnya. Sungguh sangat disayangkan bukan?
Pemuda seperti kita inilah yang akan menghadapi dampak bonus demografi sekaligus pula yang akan menjadi agen utama dari solusi menghadapi masalah tersebut di masa depan. Sehingga kualitas pemuda masa kini menjadi penentu kualitas penduduk Indonesia di masa depan.
Sebagai generasi penerus bangsa, hendaknya kita mengetahui langkah-langkah dalam menyongsong Indonesia emas 2045. Kita memulainya dari diri kita sendiri dengan menghindari perilaku konsumerisme, materialistis, sadistis, agresif, individualistis, maupun hedonistik yang sering muncul seiring pesatnya kemajuan global. Perilaku tersebut tidak sesuai dengan kultur budaya Indonesia  sekaligus menimbulkan keresahan dan ancaman bangsa.
Kita juga harus memperbaiki kualitas sebagai pemuda penerus bangsa. Kualitas tersebut sebagian  bergantung  pada  apakah kita sehat dan berpendidikan, atau apakah kita memiliki pekerjaan dan perekonomian yang bagus. Selanjutnya, bagaimana kita akan berproses dewasa menyiapkan masa depan dan masa depan anak cucu? Tentunya dibutuhkan keteladanan dan kebijaksanaan seluruh elemen bangsa, termasuk pemuda di dalamnya untuk menentukan sikap.    Kita sebagai pemuda, generasi penerus bangsa,  juga harus selalu berpikir kritis, selalu berinovasi, dan berintelektual. Dengan kata lain, kita akan membangun peradaban baru baik dari segi intelektual, sikap, maupun kehidupan sosial itu sendiri.
Bila kita mendengar sejarah, kita akan menemui pidato Ir. Soekarno dengan pepatahnya yang berbunyi, “Beri aku seribu orang tua niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia”.  Bayangkan, hanya dengan sepuluh pemuda, Bung Karno berkeyakinan untuk mengguncang dunia. Lain lagi pada masa pemerintahan Soeharto. Bukankah yang mengakhiri masa suram pemerintahan orde lama adalah para pemuda bergelar mahasiswa? Mahasiswa-mahasiswalah yang dapat berpikir kritis dan memprotes pemerintahan yang kala itu carut marut. Lalu apakah kita yang saat ini disebut sebagai pemuda, akan tetap diam berpangku tangan tanpa melakukan hal hal yang produktif yang dapat membangun bangsa ini menjadi lebih baik lagi?
Untuk itu,  kita sebagai pemuda generasi penerus bangsa, sebisa mungkin mengeksplor  berbagai ilmu pengetahuan dan berkontribusi membangun bangsa melalui karya karya yang kita hasilkan. kita harus yakin bahwa kita dapat membawa Indonesia menuju masa emas 2045 dengan langkah-langkah tersebut.